Perhatian : Pengutipan berita Portal Riau Terkini harus mencantumkan nama Portal Riau Terkini dan izin dari Admin : BURHAN, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Mei 2014

Tari Zapin Riau

Tarian Zapin merupakan salah satu dari beberapa jenis tarian Melayu yang masih eksis sampai sekarang. Tarian ini diinspirasikan oleh keturunan Arab yang berasal dari Yaman. Menurut sejarah, tarian Zapin pada mulanya merupakan tarian hiburan di kalangan raja-raja di istana setelah dibawa dari Yaman oleh para pedagang-pedagang di awal abad ke-16. Masyarakat Melayu termasuk seniman dan budayawannya memiliki daya kreasi yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan kreasi tari Zapin yang identik dengan budaya Melayu maupun dalam hal berpantun. Seniman dan budayawannya mampu membuat seni tradisinya, tidak mandek tapi penuh dinamika yang selalu dapat diterima dalam setiap keadaan. Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair lagu-lagu zapin yang didendangkan.

Seni Tari adalah gerak indah dan berirama yang mengandung dua unsur penting: gerak dan irama. Gerak merupakan gejala primer dan juga bentuk spontan dari kehendak yang terdapat di dalam jiwa; sementara irama adalah bunyi teratur yang mengiringi gerak tersebut. Gerak tarian  biasanya diinspirasikan dari pengalaman hidup sehari-hari. Satu tari tradisional Melayu yang sangat mengakar dan populer adalah Tarian Zapin. Tari ini merupakan satu dari beberapa jenis tarian Melayu yang masih eksis sampai sekarang. Tarian ini diinspirasikan oleh keturunan Arab yang berasal dari Yaman.

Menurut sejarah, tarian Zapin pada mulanya merupakan tarian hiburan di kalangan raja-raja di istana setelah dibawa dari Yaman oleh para pedagang-pedagang di awal abad ke-16. Masyarakat Melayu termasuk seniman dan budayawannya memiliki daya kreasi yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan kreasi tari Zapin yang identik dengan budaya Melayu maupun dalam hal berpantun. Seniman dan budayawannya mampu membuat seni tradisinya, tidak mandek tapi penuh dinamika yang selalu dapat diterima dalam setiap keadaan. Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair lagu-lagu zapin yang didendangkan.

Sebutan zapin umumnya dijumpai di Sumatera Utara dan Riau, sedangkan di Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu menyebutnya dana. Julukan bedana terdapat di Lampung, sedangkan di Jawa umumnya menyebut zafin. Masyarakat Kalimantan cenderung memberi nama jepin, di Sulawesi disebut jippeng, dan di Maluku lebih akrab mengenal dengan nama jepen. Sementara di Nusatenggara dikenal dengan julukan dana-dani.

Minyak Dan Gas Di Bumi Riau

Kilang Minyak Di Riau
Minyak dan Gas Bumi RIAU memiliki  2 aktivitas pokok dari migas, yaitu Produksi Minyak dan Gas, Kilang (minyak, Gas, LPG, LNG). Dan penyimpanan BBM untuk kebutuhan distribusi di Riau tidak ada, yang ada adalah penyimpanan BBM sementara dari hasil produksi BBM Kilang minyak. Para pelaku aktivitas Minyak dan Gas Bumi RIAU adalah perusahaan Migas,  yaitu : PT. Pertamina, PT. Chevron Indonesia company, PT. Emp Malaca, PT. Sarana Pembangunan Riau, PT. Sumatra Persada Energi.
Disamping kegiatan tersebut kegiatan lain adalah ekspor dan impor Minyak Bumi dan Gas. Ekspor migas  Riau berupa Minyak mentah, dan beberapa produk turunan dari Migas termasuk ekspor BBM, hanya ekspor diluar minyak jumlahnya relative kecil.


EKSPOR MINYAK DAN GAS BUMI.

Minyak dan gas bumi RIAU di ekspor melalui 2 pelabuhan, yaitu : pelabuhan Dumai, Pelabuhan Sungai Pakning. Dari kedua pelabuhan tersebut RIAU tahun 2012 menyumbang devisa keTIGA terbesar dari ekspor migas nasional, SETELAH KALTIM dan KEPRI, yaitu senilai 5,7 milyar USD, atau sebesar 15,8 persen dari nilai ekspor migas Nasional.
              
TABEL 1
EKSPOR MINYAK
TAHUN 2012

PELABUHAN
dlm juta barrel
Juta USD
DUMAI
                                    49.04
           5,548
SUNGAI PAKNING
                                       1.12
               131
TOTAL
                           50.16
        5,679
Sumber : diolah BPS





https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEr-K7fSrhRaQESg_I54GCR7J9YSB1X0uyvb0yLeeZm3D0FD-F8fkABW5kFGcvAYsI4sGkOcgCWt_JcWKvfigyOYXKcp0Ud6vkZ8ERA1-CKZAQ4rvwuYJwV5Cslc5mKR4H2SsOFGhceT8/s470/MINYAK+DAN+GAS+BUMI+KT.png
Produksi Minyak mentah dan kondensate
Minyak dan kondensat yang di produksi Riau tahun 2012 sebesar 133,4 juta barrel,  sedangkan produksi nasional sebesar 314,67 juta barel, berarti produksi Minyak RIAU sebesar 42,4 persen dari produksi nasional.  Dan  RIAU merupakan Produsen terbesar Minyak Mentah dan Kondensat Indonesia.              




Perusahaan yang memproduksi minyak dan kondensat tahun 2012 RIAU adalah :
(1)   PT Chevron  dari 2 lokasi produksi sebesar 124.66 juta barrel atau sebesar 93,42 persen.
(2)   PT BOP Pertamina pada 1 lokasi sebesar 5,6 juta barrel, atau sebesar  4,26 persen.
(3)   PT EMP Malaca sebesar  2,64 juta barrel, atau sebesar   1,98 persen.
(4)   PT. SARANA PEMBANGUNAN RIAU sebesar 0.22 juta barrel, atau sebesar  0,16 persen.
(5)   PT. SUMATRA PERSADA ENERGI sebesar 0.18 juta barrel, atau sebesar 0,14 persen.


TABEL 3
PRODUKSI MINYAK
TAHUN 2012

PERUSAHAAN
DAERAH
jt barrel
BOB Pertamina Bumi Siak Pusako
Siak
               5.68
PT Chevron Pacific Indonesia
Rokan, Riau
           123.91
PT Chevron Pacific Indonesia C & T (Siak)
Siak Block, Riau
               0.75
EMP Malacca Strait S.A. (ex. Kondur)
Malacca Strait, Riau
               2.64
Petroselat
Selat Panjang, Riau
               0.06
PT Sarana Pembangunan Riau
Mountain Front Kuantan, Riau
               0.22
PT Sumatera Persada Energi
West Kampar, Riau
               0.18
TOTAL
           133.44
Sumber : diolah dijen ESDM


Produksi GAS BUMI
Perusahaan gas yang beroperasi di RIAU adalah :
(1)         PT Chevron  dengan produksi 17,7 juta MSCF atau 74,6 persen dari produksi gas RIAU.
(2)          PT Kalila ltd pada 2 lokasi dengan produksi 6,0 juta MSCF atau sebesar 25,4 persen.
(3)          PT Petroselat ltd dengan produksi 9,3 ribu MSCF atau 0,04 persen.

TABEL 4
PRODUKSI GAS BUMI
TAHUN 2012

PERUSAHAAN
dlm MSCF
Kalila (Bentu)
5,862,221
Kalila (Korinci Baru)
171,412
Petroselat Ltd
9,338
PT. C P I
17,742,337
TOTAL
23,785,308
Sumber : diolah dijen ESDM



Produksi LPG
Produksi LPG RIAU sebesar 90 ribu m ton tahun 2012. Dengan 2 perusahaan yang memproduksi taitu :
1         Pertamina produksi sebesar 41,1 ribu m ton atau 45,7 persen. LPG dihasilkan dari Kilang Minyak milik Pertamina.
2         PT HESS pangkah produksi sebesar  48,9 ribu m ton atau sebesar 54,3 persen.
TABEL  3
PRODUKSI LPG
TAHUN 2012

PERUSAHAAN
dlm m ton
PERTAMINA
41,086.14
HESS (PANGKAH)
48,873.00
TOTAL
89,959.14
Sumber : diolah dijen ESDM


Kilang Minyak .
RIAU memiliki 2 kilang minyak, yaitu kilang minyak sei pakning, dan kilang minyak Dumai.
Kapasitas kilang sei Pakning sebesar 50.000 barrel per hari, dan kapasitas Kilang Minyak Dumai sebesar 127.000 narrel perhari. Total kapasitas kilang minyak di RIAU sebesar 177.000 barrel per hari. Jadi kapasitas produksi pertahun sebesar 64,6 juta barrel pertahun. Kapasitas produksi kilang minyak nasional adalah 429,2 juta barrel pertahun. Bearti Kapasitas Kilang minyak RIAU sebesar 15 persen dari kapasitas kilang minyak nasional.
Bila dibandingkan dengan produksi minyak Riau tahun 2012 sebesar 133,4 juta barrel, maka memampuan kilang minyak hanya bisa menyerap 49,4 persen dari produksi minyak mentah RIAU.

Sejarah Riau

Mengenai asal nama Riau ada beberapa penafsiran. Pertama toponomi Riau berasal dari penamaan orang Portugis dengan kata rio yang berarti sungai. Kedua mungkin berasal dari tokoh Sinbad al-Bahar dalam kitab Alfu Laila Wa Laila (Seribu Satu Malam) yang menyebut riahi, yang berarti air atau laut, dan yang ketiga berasal dari penuturan masyarakat setempat, diangkat dari kata rioh atau riuh, yang berarti ramai, hiruk pikuk orang bekerja.


Berdasarkan beberapa keterangan di atas, maka nama Riau besar kemungkinan memang berasal dari penamaan rakyat setempat, yaitu orang Melayu yang hidup di daerah Bintan. Nama itu besar kemungkinan telah mulai terkenal semenjak Raja Kecik memindahkan pusat kerajaan Melayu dari Johor ke Ulu Riau pada tahun 1719. Setelah itu nama ini dipakai sebagai salah satu negeri dari empat negeri utama yang membentuk kerajaan Riau, Lingga, Johor dan Pahang.


Kemudian dengan Perjanjian London (1824) antara Belanda dengan Inggris, kerajaan ini terbelah dua. Belahan Johor - Pahang berada di bawah pengaruh Inggris, sedangkan belahan Riau - Lingga berada di bawah pengaruh Belanda. Dalam zaman penjajahan Belanda (1905 - 1942), nama Riau dipakai untuk nama sebuah keresidenan, yang daerahnya meliputi Kepulauan Riau serta pesisir Timur Sumatera bagian tengah.


Setelah Propinsi Riau terbentuk tahun 1958, maka nama itu di samping dipergunakan untuk nama sebuah kabupaten, dipergunakan pula untuk nama sebuah propinsi yang penduduknya dewasa itu sebagian besar terdiri dari orang Melayu.


Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di rantau ini, antara lain adalah:


* Kerajaan Inderagiri (1658-1838)

* Kerajaan Siak (1723-1858)

* Kerajaan Pelalawan (1530-1879)

* Kerajaan Riau-Lingga (1824-1913)

* Kerajaan kecil lainnya, seperti Tambusai, Rantau Binuang Sakti, Rambah, Kampar dan Kandis (Rantau Kuantan).


Kata Melayu berasal dari kata Mala dan Yu. Mala artinya mula atau permulaan, sedangkan Yu artinya negeri. Melayu artinya negeri yang mula-mula ada. Pendapat ini sesuai dengan perkembangan bangsa Melayu dari daratan Asia Tenggara, pada kira-kira tahun 2000 sebelum Masehi dan 1500 sebelum Masehi yang menyebar ke seluruh Indonesia. Pendapat lain mengatakan, bangsa Melayu berasal dari kata layu yang artinya rendah. Maksudnya bangsa Melayu itu rendah hati sangat hormat kepada pemimpinnya. Istilah Melayu ini dipergunakan untuk menamakan sebuah Kemaharajaan Melayu dan Kerajaan Melayu Riau. Perkataan Melayu juga dipakai menamakan rakyat pendukung kerajaan-kerajaan tersebut sehingga terkenal sebagai suku Melayu dengan bahasa yang dipergunakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu ini pada masa dahulu menjadi Lingua Franca di kawasan Asia Tenggara ini.


RIWAYAT PROPINSI RIAU

Riau dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 10 tahun 1948, tentang pembagian Sumatera dalam tiga propinsi. Antara lain Sumatera Tengah yang meliputi keresidenan Sumatera Barat, Riau dan Jambi.


Keinginan rakyat Riau yang menghendaki daerah otonomi dibahas dalam berbagai kesempatan, antara lain:


* 17 Oktober 1954 diadakan Kongres Pemuda Riau di Pekanbaru.


* 7 Agustus 1955 diadakan Konperensi DPRDS I antar empat kabupaten dalam Keresidenan Riau di Bengkalis


* 7 September 1955 delegasi DPRDS empat Kabupaten Riau menghadap Mendagri Mr. R. Soenarjo yang menghasilkan Keterangan Nomor De/44/12/13/7 yang isinya, "Persoalan itu akan diberi perhatian seperlunja, dan pembagian wilajah R.I. dalam daerah-daerah propinsi jang baru sedang direntjanakan."


* 9 September 1955 dibentuk Badan Penghubung Persiapan Propinsi Riau di Jakarta.


* 31 Januari s/d 2 Februari 1956 diselenggarakan Kongres Rakyat Riau. 22 Oktober 1956, pertemuan para tokoh dengan Mendagri Soenaryo. Menurut menteri, Undang-undang Pembentukan Propinsi Riau belum disiapkan, namun akan diajukan dalam Sidang Parlemen permulaan 1957.


* Sidang Kabinet 1 Juli 1957 menyetujui Riau dan Jambi menjadi propinsi.


* 7 Agustus 1957, Undang-undang Propinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi disetujui.


* 9 Agustus 1957 diundangkan dalam Lembaran Negara Nomor 75 dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 1957 yang menetapkan pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Sumatera Barat, Riau dan Jambi.


* Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 256/M/1958, pada 5 Maret 1958 dilakukan pelantikan Gubernur KDH Propinsi Riau, SM Amin di Tanjungpinang. Maka resmilah daerah Swatantra Tingkat I Propinsi Riau.


* 20 Januari 1959 ibukota propinsi kemudian dipindahkan dari Tanjungpinang ke Pekanbaru, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Des 52/1/44-25. Gubernur SM Amin digantikan oleh Kaharuddin Nasution yang dilantik pada 6 Januari 1960 di Pekanbaru.


Alam Sejarahnya , daerah Riau pernah menjadi penghasil berbagai hasil bumi dan barang lainnya. Pulau Bintan pernah di juluki sebagai pulau seganteng lada, karena banyak menghasilkan Lada. Daerah Pulau tujuh, terutama pulai Midai pernah menjadi penghasil Kopra terbesar di Asia tenggara,paling kurang sejak tahun 1906 sampai tahun 1950-an. Bagan siapi-api sampai tahun 1950-an adalah penghasil ikan terbesar di Indonesia, Batu bata yang di buat perusahaan raja Aji kelana di pulau Batam,pasarannya mencapai Malaysia sekarang ini. Kemudia dalam bidang penghasil karet alam, dengan sisitem kupon tahun 1930-an belahan daratan seperti Kuantan,Indragiri dan kampar juga daerah yang amat potensial. 

Asal Mula Tanjung Kapal Rupat










By : Burhan
          Alkisah pada zaman dahulu ada seorang orang tua yang sebelumnya tidak diketahui dari mana asalnya hidup suatu tempat yang sekarang bernama Tanjung Kapal. Dia hidup dengan sendirinya dengan pakaian yang compang camping dan hanya sehelai di badan. Dia hidup didalam istananya yang bertiang nibung empat sudut berlantai dan bertiang bambu dan ber atap rumbia.
          Terlihat di sekeliling rumahnya terdapat beberapa jenis tanaman sayuran yang sengaja ditanamnya untuk keperluan hidupnya sehari-hari. Tidak jauh dari itu terlihat tungku masak dan timbunan kayu api di sebelah belakang gubuknya dan tidak jauh dari timbunan kayu api tersebut terlihat sebuah sumur dan airnya sangat jernih.
          Sekali-kali terlihat di dapur orang tua itu terlihat berasap, ternyata orang tua itu sedang memasak. Orang tua itu bernama tuk ‘Sulung’.
          Keseharian tuk Sulung tidaklah tentu, terekadang kelaut dan terkadang ke hutan. Dia pergi ke hutan untuk mencari kayu untuk memasak. Dan ternyata orang tua ini juga pandai menangkap burung. Sambil mencari kayu api tuk Sulung membawa getah para dan diletakkannya di atas sepotong kayu, apabila burung hinggap di kayu tersebut maka burung tersebut akan lengket.
          Tuk Sulung tidak dapat memujurkan nasibnya, terkadang dia banyak mendapatkan burung, terkadang dia hanya mendapat dua ekor atau satu ekor burung saja.Suatu hari dia pergi ke hutan dengan sebilah parang bangkungnya dengan sedikit getah para yang dibungkusnya dengan daun talas. Sambil kakinya melangkah matanya menoleh kesana kemari melihat dimana banyak burung yang berterbangan. Di selah-selah pohon besar banyak burung yang berterbangan dan hinggap di dahan pohon tersebut. Sabil menunggu mangsanya tertangkap tuk Sulung mencari kayu untuk keperluan hidupnya sehari-hari.
Setelah hampir satu ikat kayu yang di carinya dia menoleh kearah dimana dia meletakan gelah para tadi. Seekor burung punai besar lengket di perangkapnya. Dengan tidak pikir panjang lagi dia langsung mengejar burung tersebut. Tapi akhirnya burung tersebut lepas dan terbang. Dengan demikian dia memukulkan tangannya ke tanah sebagai tanda kekecewaannya.          Hari pun Sudah hampir siang dia memikul kayu yang di carinya tadi dan dibawa pulang. Sampai dirumah dia bersandar di tiang rumahnya dia berfikir untuk keesokan harinya ingin pergi kelaut untuk memancing ikan. Dia berpikir menangkap burung adalah pekerjaan yang sangat membosankan dan dia berpikir menangkap ikan lebih mudah.
          Siang pun berlalu matahari yang tadinya diatas kepala sekarang sudah condong kebarat lama kelamaann mataharipun tenggelam. Keesokaan harinya dia pergi kelaut untuk memancing, dipinggir pantai ada sebuah sampan kempang miliknya, sampan itu tidaklah besar dan umur sampan itu sudahlah lama terlihat di bagian tepi sampan tersebut yang sudah dimakan bubuk. Didalam sampan tersebut terdapat sepasang dayung dan sebuah tempurung kelapa untuk pembuang air dari sampan tersebut, maklum karna sampan tersebut sudah banyak yang bocor. Sampan itu terbuat dari batang kayu yang besar.
Alkisah tuk Sulung pun naik kesampan tersebut. Dia melepaskan tali ikatan sampan tersebut dan mendayungnya ke arah barat yang konon sekarang di sebut ‘Tanjung Kapal.          Tak heran sekali-kali topi tuk Sulung yang terbuat dari ayaman bambu di hembus oleh angin laut. Tuk Sulung membawa dua buah joran pancing yang terbuat dari bambu. setelah beberapa saat berdayung sampailah tuk Sulung di suatu tempat di depan Tanjung, ombak yang bergelombang membuat sampannya berayun-ayun.          Tuk Sulung mulai memasang umpan dan mulai memancing, pekerjaan tersebut haruslah sabar. sambil menunggu ikan memakan pancingnya tuk Sulung bersiul-siul. Terlihat sekali-kali kapal juragan dari luar negeri masuk ke kuala sungai Dumai yang membawa barang dagang miliknya.
          Tak lama kemudian seekor ikan memakan pancingnya tuk Sulung sibuk didalam sampan nya dan berteriak ‘iiiikaaaan besaarr’…..          Tapi sialnya joran pancing miliknya tersebut patah. ‘alamaakk sial betl nasib datuuk ni..tapi tak apalah kan masih ada satu pancing lagi. Tuk Sulung pun memancing kembali tapi kali ini dia beruntung, ia mendapat ikan Semilang besar. ‘ ini baru elok nasib datuk…mujur tak mujur pulak.. ahh.. bisalah untuk lauk datuk nanti, kayu api sudah ada di rumah, tinggal datuk panggang aja lagi ikan ne….’
           Setelah beberapa ekor ikan yang di dapatnya, dia bermaksud untuk membawa pulang ikannya dan segera memanggangnnya. Tuk Sulung pun melepaskan tali sampannya yang di ikat di salah satu batang pohon yang ada diTanjung tersebut.          Ketika mulai berdayung, tiba-tiba terdengar bunyi ‘kkrrrraaakk…’ tuk Sulung pun terkejut. Ohh.. ternyata dayung datuk patah pulak. Maklumlah dayung dah lamo.. terpaksalah datuk cari kayu dulu untuk menggantikan dayung yang patah ne..
          Alkisah tuk Sulung pun pergi ke daratan Tanjung tersebut untuk mencari kayu sebagai ganti dayungnya yang patah. Sekali-kali kakinya tersandung di akar kayu bakau matanya menoleh kekiri dan kenan untuk mencari kayu yang lurus yang sesuai untuk dayungnya. Dan akhirnya mata tuk Sulung tertuju pada sebatang pohon, dia pun menakik-nakik kayu tersebut dan mengambilnya.
          Setelah dia mengambil kayu tersebut diapun menggeleng-gelengkan kepalanya. ‘ kayu ne tak suai pulak.. masalah nyo kayu ne bengkok pulak,..terpaksalah datuk cari kayu yang lain.
          Dia pun melangkah kearah depan untuk mencari kayu yang lebih cocok untuk dayungnya. Tepat disebelah kanan tuk Sulung ada sebuah kayu yang besar dan dibawahnya terdapat sebatang kayu kecil yang lurus, tuk Sulung pun melangkah kaki nya untuk menebang kayu tersebut.Alkisah sambil menebang kayu darah merah berceceran dari atas pohon yang besar tersebut ntuk Sulung menoleh keatas tapi dia tidak melihat apa-apa namun darah tersebut terus menetes. Rasa takut pun timbul di hati tuk Sulung dan terlihat mulutnya komat-kamit.          Tuk Sulung memegang parangnya lebih erat dan dia  membalikan badannya dan berlari sekuat tenaga. Tiba-tiba langkahnya terhenti, di belakangnya terlintas orang yang berlari. Orang itu berjubah putih dan bersorban, sekujur tubuh tuk Sulung terlihat menggigil, terlihat dia menalan air liurnya.
          Orang berjubah putih tersebut berkata ‘ jangan takut hai orang tua…saya tidak akan mengganggu mu..’Ssssiapaa kau…..????. sahut tuk SulungSaya penunggu Tanjung ini !!!. sahut orang berjubah tersebut..          Tiba-tiba bayanngan tersebut lenyap, tanpa basa-basi lagi tuk Sulung berlari kearah sampannya dan pergi dari Tanjung itu. Tuk Sulung terlihat kewalahan mendayung sampannya melawan arus, apalagi dayung yang di pakainya Cuma satu.
          Setelah kejadian itulah orang-orang mengetahui di Tanjung tersebut ada penunggunya. Bukan hanya tuk Sulung saja yang mengalami kejadian itu, kapal dagang yang terkadang melintas di Tanjung tersebut orang yang berjubah putih duduk di atas kerbau besar yang berwarna hitam yang berkeliaran di Tanjung tersebut.
          Ssetelah kejadian tersebut tuk Sulung merasa takut hendak melintas di Tanjung tersebut. Apabila tuk Sulung ingin memancing, dia hanya memancing di daerah teluk saja (sekarang di daerah Jeram). Ia tidak pernah lagi memancing di Tanjung.
          Pada suatu hari tuk Sulung pergi kedapur rumahnya, dia melihat di dalam tempayannya tidak ada apa-apa lagi. Sayur mayur yang di tanamnya di sekeliling rumahnya tersebut pun sudah abis. Mau tidak mau tuk Sulung harus pergi memancing untuk mencari ikan sebagai lauknya.
          Tuk Sulung mengambil parang dan pergi kebagian belakang rumahnya untuk mencari cacing sebagai umpan pancingnya. Setelah peralatan pancingnya lengkap, dia pergi kepantai mengambil sampannnya dan pergi memancing          Alkisah sampailah tuk Sulung di teluk. Tuk Sulung pun mulai memancing. Akan tetapi cuaca tidak mendukung, hujan panas pun turun, terlihat dari jauh sebuah kapal yang membawa barang dagang dari luar negeri, kilat dan petir pun sekali-kali menyambar.
          Tiba-tiba kilat menyambar terdengar suara petir yang seperti ingin membelah langit. Hujan panaspun terus-menerus turun, tiba-tiba muncul Jin yang sangat besar dari Tanjung tersebut sangking besarnya jin tersebut kaki kiri jin menginjak Tanjung, dan kali kanannya menginjak kapal dagang di kuala sungai Dumai yang bernama “Naga Berlian”, dan akhirnya kapal tersebut tenggelam.
          Tuk Sulung  yang menyaksikan kejadian tersebut membuat mulutnya berkata. “ mmmulai sekarang tannjuung inii aku beri nama Tanjung Kapal………!!!!!!Setelah kejadian tersebut, maka Tanjung tersebut di kenal dengan nama Tanjung Kapal. Konon para nelayan yang singgah di Tanjung tersebut mulai membuat perkampungan, banyak juga orang-orang dari kampung lain pindah di Tanjung Kapal. Terutama warga teluk mas (bagian hulu darul aman). Maka sampai sekarang terbentuklah sebuah kampung yang ramai penduduknya.          Tanjung tersebut sekarang masih ada, yaitu di sebelah kanan pelabuhan RORO Tanjung Kapal. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Tanjung tersebut merupakan istana jin yang menunggu Tanjung itu. 

Biografi penulis
        Burhan, melarutkan dirinya dan menekuni seluk beluk budaya melayu, khususnya melayu Riau. Minatnya yang besar mendorong dirinya untuk menulis buku “ asal mula Tanjung Kapal” ini.
            Burhan anak pertama dari tiga bersaudara di lahirkan di Tanjung Kapal, pada 24 Februari 1993. Dia mulai aktif di seluk beluk budaya melayu sejak dari SD. Kegiatan-kegiatann yang pernah di ikutinya antara lain :
1.      Sanggar zapin berkah ilahi (Tanjung Kapal)
2.      Persatuan kompang Tanjung Kapal
3.      Zapin MA aridho Batu panjang.
4.      Dan beberapakali meeraih juara pada acara helat seni di kabupaten Bengkalis
Dia juga pernah berkreatifitas dalam lomba mendongeng. Pernah meraih juara satu zapin kreasi dan juara dua zapin tradisional (2009) dan juara dua zapin tradisional (2010) kabupaten Bengkalis. Saat ini dia duduk di bagku kuliah di Politeknik Negeri Bengkalis.

Biografi narasumber
Nenek ‘maryam’, lahir pada tanggal 10 September 1938 di bagan siapi-api. Beliau pernah tinggal dan berpendidikan di batu 18 simpang tiga sungai raya Malaysia. Diwaktu mudanyua dia aktif di seluk-beluk budaya melayu dan juga sebagai pengandam pengantin.
      Nenek maryam mengetahui banyak cerita rakyat dan dia sering bercerita kepada anak cucunya. Nenek ini juga termasuk orang yang pertama kali bermukim di Tanjung Kapal dan saat ini juga berdomisili di desa Tanjung Kapal. 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons